Mbak Ita Apresiasi Warga Trimulyo, Manfaatkan Lahan Rawa Untuk Urban Farming

Wakil Walikota Semarang Hevearita G Rahayu saat memanen sayur mayur di lahan urban farming kawasan Trimulyo, Semarang.(doc)

SEMARANG, Jagaberita.com – Wakil Walikota Semarang Hevearita G Rahayu mengatakan, salah satu kunci keberhasilan dalam membangun urban farming adalah kemauan dan komitmen warga untuk mengelola lahan dengan baik.

“Kuncinya adalah kemauan dan komitmen. Salah satunya seperti kelompok tani di Trimulyo ini, meski berada di wilayah pesisir yang kerap banjir dan rob, sekarang justru bisa di tanami sayur-sayuran,” Kata Wakil Walikota Semarang Hevearita G Rahayu saat meninjau urban farming di RT 5 RW 4 Kelurahan Trimulyo, Kecamatan Genuk, Kota Semarang, Jumat (3/7/2020) sore.

Lebih lanjut, Mbak Ita sapaan akrab Wakil Walikota Semarang mengungkapkan, ketekunan warga RT 5 RW 4 Kelurahan Trimulyo yang dapat memanfaatkan lahan rawa untuk dijadikan lahan produktif melalui urban farming dapat menjadi contoh.

“Kawasan ini akan dicanangkan penanaman seribu bibit cabai dan akan dibuat tempat pembibitan. Tentu ini juga akan mendukung keinginan warga untuk menjadikan area tersebut sebagai tempat wisata,” ungkapnya.

Menurut Mbak Ita, lokasi ini bisa menjadi tempat usaha mulai dari pembibitan, tempat wisata, hingga penjualan produk dari hasil panen.

“Pemerintah Kota Semarang perlu melakukan pendampingan secara maksimal agar masyarakat setempat memiliki penghasilan lebih dari urban farming diwilayah ini,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua RT 5 RW 4 Trimulyo, Kasmadi mengatakan, pihaknya bersama warga mulai merintis urban farming pada Mei 2020.

“Lahan tersebut sebelumnya sempat digunakan untuk lomba tanam-menanan yang diadakan PKK. Namun, warga gagal memenangkan lomba tersebut. Kemudian, adanya Covid-19 ini membuat warga kembali bersemangat memanfaatkan rawa-rawa untuk menjadi lahan pangan,” katanya.

Menurutnya, keberhasilan urban farming diwilayahnya didukung dengan warga yang saling bergotong royong.

“Sistem penyiraman disini menggunakan sistem otomatis, yakni dengan menggunakan pipa oanjang yang diberi air. Dimana polibag diletakkan diatas pipa tersebut sehingga penyiraman dilaukan secara otomatis dengan menyerap air yang ada di pipa itu,” jelasnya.

Adapun macam-macam tanaman lanjut Kasmadi yakni meliputi cabe, tomat, terong, sawi, seledri, kangkung, dan labu.

“Ini dikelola sepenuhnya oleh warga, dan hasil dari tanaman juga akan dimanfaatkan untuk kebutuhan warga,” tambahnya.(JB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *