Kota Semarang Perpanjang Pemberlakuan PKM Selama 14 Hari

Walikota Semarang Hendrar Prihadi saat memberikan keterangan pers di depan awak media. (doc)

SEMARANG, Jagaberita.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang memutuskan untuk memperpanjang pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKM) hingga 7 Juni 2020 mendatang.

Keputusan tersebut diambil dalam sebuah rapat yang dihadiri oleh jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Semarang, Kamis malam (21/5).

Dalam rapat Forkopimda tersebut dilakukan sejumlah evaluasi, terutama menyoroti adanya lonjakan aktifitas masyarakat selama dua jelang hari raya Idul Fitri.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengatakan, pada dasarnya pihaknya ingin menjalankan skema ‘New Normal’ di Kota Semarang, namun hal tersebut membutuhkan waktu.

“Perlahan kami akan membiasakan masyarakat untuk memasuki situasi New Normal, tapi saat ini kami masih belum berani melepas secara total. Maka dari itu dalam perpanjangan PKM 14 hari, untuk jam operasional unit informal, termasuk PKL, yang sebelumnya harus tutup jam 8 malam, kita mundurkan jadi sampai jam 9 malam, restoran juga.” tutur Hendi.

“Karena kita tahu, beberapa hari terakhir ini saja cukup banyak masyarakat beraktifitas di jalanan, mall, atau di pasar untuk menyiapkan lebaran. Masyarakat seakan lupa kalau saat ini kita sedang menghadapi pandemi Covid-19,” pungkasnya.

Lebih lanjut Wali Kota Semarang tersebut menerangkan, adanya lonjakan aktifitas masyarakat itu menyebabkan tren penurunan grafik Covid-19 kemudian berbalik arah.

“Selama dua hari ini ada penambahan penderita Covid-19 terkonfirmasi cukup signifikan sebanyak 17 orang, dari 3 cluster baru, yaitu sebuah pasar, rumah sakit, dan salah satu lembaga pendidikan,” ungkap Hendi.

“Untuk di mall dan tempat-tempat usaha yang ada, kalau kita lakukan rapid atau swab kemudian ada yang reaktif atau positif, mall dan unit usaha tersebut akan kita tutup secara paksa untuk sterilisasi. Di pasar pun kalau hasil tesnya cukup banyak yang reaktif atau positif, juga akan kita tutup,” tegasnya.

Sementara itu, Kapolrestabes Semarang, Auliansyah Lubis menegaskan pihaknya akan tetap melakukan pengetatan di jalur masuk ke Ibu Kota Jawa Tengah, dan mengembalikan pendatang yang masuk ke Kota Semarang dalam rangka mudik.

“Khususnya pada pos penyekatan di Kalikangkung, Mangkang, Banyumanik dan Pedurungan atau Plamongan, tetap kita lakukan sesuai dengan prosedur awal, kecuali ada yang memiliki dokumen sesuai ketentuan Menhub,” tekan Wali Kota Semarang tersebut.

“Kalau untuk mudik, kita kembalikan untuk tidak masuk ke kota Semarang, namun sesuai dengan peraturan Menhub bahwa yang tidak diijinkan adalah dari kota yang zona merah seperti Jakarta, Jabar, Jatim. Kalau memang di sekitaran kita, misalnya dari pekalongan mau masuk semarang, kita melihat situasional juga dengan pemeriksaan medis,” tambahnya. (JB/Arf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *