Dewan Dorong Ada Aturan Jelas Terkait ABT

Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kota Semarang, Joko Santoso. (doc/JB)

SEMARANG, Jagaberita.com – Pengambilan Air Bawah Tanah (ABT) yang tidak terkendali, sampai saat ini masih menjadi perhatian serius. Pasalnya, tindakan tersebut menyebabkan terjadinya penurunan permukaan tanah di Kota Semarang.

Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kota Semarang, Joko Santoso mengatakan, tiap tahun terjadi penurunan permukaan tanah antara 10-15 cm. Jika hal tersebut dibiarkan, akan berdampak buruk terutama lingkungan apalagi bagi wilayah dekat dengan laut.

Pihaknya meminta pengawasan pengambilan air bawah tanah supaya ada aturan jelas, baik masalah perusakan lingkungan dan bagaimana pengawasan perusakan lingkungan di Kota Semarang.

“Memang yang sebenarnya pengawasan pengambilan ABT, tanggungjawabnya ada di provinsi. Tetapi kan, yang terkena dampaknya kota Semarang. Untuk itu perlu ada aturan terkait fungsi pengawasan terhadap pengambilan ABT, apalagi ABT yang tidak berizin,” katanya, Kamis (20/2/2020).

Pihaknya juga akan menyampaikan masalah tersebut melalui forum rapat paripurna sebagai pandangan umum Partai Gerindra. Joko menambahkan, pemberian izin pengambilan ABT berada di Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah ini menjadi kendala juga.

Selama ini perizinan tidak ada rekomendasi dari Pemkot Semarang. Sehingga, nantinya tidak saling tunjuk siapa yang salah. Karena kedepannya, yang terkena dampaknya adalah masyarakat Kota Semarang.

“Kami akan rapatkan dengan stake holder atas seizin ketua komisi,  untuk membahasnya. Sehingga ada aturan jika terjadi permasalahan yang serupa. Tapi disisi lain, masyarakat juga butuh air bersih,” kata anggota Komisi C DPRD Kota Semarang ini.

Joko Santoso juga mengaku belum melakukan pengecekan, apakah di sana sudah ada layanan PDAM. “Kalau kita larang, tapi kalau di sana belum ada jaringan PDAM, kita juga tidak bisa,” tandasnya.

Menurut Joko Santoso, dampak lingkungan dari pengambilan ABT di Kota Semarang dinilai sudah parah. Apalagi, di daerah zona merah seperti Semarang Utara, Genuk, Semarang Tengah. Masyarakat harus menabung untuk meninggikan rumah karena tiap tahun bangunannya terus turun.

“Saat ini, ABT banyak dipakai di pabrik-pabrik atau industri, seperti daerah pelabuhan dan perhotelan yang banyak membutuhkan kebutuhan air untuk kebutuhan sehari-hari nya,” tambahnya. (JB/Arf) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *