Ribuan Jamaah Hadiri Khaul dan Ganti Luwur Abah Syeikh Saifullah Anwar Zuhri Rosyid

Suasana khaul ke 7 Abah Syeikh Saifullah Anwar Zuhri Rosyid dan Ganti Luwur yang digelar di Pondok Pesatren Salafiyah Az-Zuhri. (Muthia/JB)

SEMARANG, Jagaberita.com – Suasana khidmat, tampak dalam penyelenggaraan khaul ke 7 Abah Syeikh Saifullah Anwar Zuhri Rosyid dan Ganti Luwur yang digelar di Pondok Pesatren Salafiyah Az-Zuhri, Jalan Ketileng Raya, Sendangmulyo, Kota Semarang, Selasa (11/2/2020) malam.

Sementara dari pantauan dilokasi, ribuan jamaah yang datang dari berbagai daerah memadati kawasan Pondok Pesantren Salafiyah Az Zuhri untuk mengikuti prosesi Khaul  Abah Syeikh dan Ganti Luwur (kelambu). Nampak hadir juga Walikota Semarang Hendrar Prihadi, dan beberapa pejabat tinggi lainnya dalam prosesi tersebut.

Prosesi pergantian kelambu sendiri diawali dengan arak-arakan kelambu dan juga beberapa hasil bumi berupa palawija menuju makam, yang kemudian kelambu diserahkan oleh Maston kepada putranya Abah Syaiful, Gus Novi dan Gus Lukman, diiringi 15 orang berpakaian Jawa.

Menurut Maston dari Teater Lingkar yang juga memimpin prosesi penyerahan Luwur mengatakan, prosesi khaul ke 7 Abah Syeikh Saifullah Anwar Zuhri Rosyid dan Ganti Luwur dipadukan dengan sentuhan budaya berupa arak-arakan dari Dalem Abah menuju makam abah.

“Budaya tidak lepas dari agama begitu juga agama tidak lepas dari budaya. Keduanya harus seiring dan sejalan,” katanya.

Menurutnya, sebuah prosesi budaya berupa arak-arakan hasil bumi pada saat proses penggantian kelambu memiliki makna bahwa setiap manusia yang hidup akan meninggal. Oleh karena itu, manusia haruslah berbuat baik dan juga berperilaku yang baik.

“Dunia ini hanya tempat tinggal kita sementara, dan bagi kita yang masih hidup harus selalu berbuat baik,” ungkapnya.

Sementara itu Walikota Hendrar Prihadi mengatakan, sosok Abah Syeikh Saifullah Anwar Zuhri Rosyid merupakan sosok yang luar biasa. Salah satunya adalah beliau selalu tersenyum dan memberikan kecerahan kepada para santri dan masyararakat.

“Satu sikap yang luar biasa lainnya, beliau dapat menerima semua kelompok atau golongan masyarakat, tanpa membeda-bedakannya,” katanya.

Maka hal yang dapat dipetik dalam kegiatan ini, Hendi setuju dengan apa yang disampaikan oleh Prie GS. Janganlah kemudian hidup di dunia ini hanya selalu mementingkan pribadi. Manusia ditakdirkan sebagai makhluk sosial satu dengan yang lain harus berinteraksi.

“Jika ada yang benci itu wajar, jangan sampai kita membalas dan itu salah satu ajaran dari Abah yang selalu saya ingat,” ungkapnya.

Selain itu, Hendi juga mengajak seluruh warga Kota Semarang untuk meneladani ajaran tersebut sebagai panutan dalam kehidupan.

“Selaku Walikota, saya mengucapkan banyak terimakasih. Kegiatan seperti inilah yang membuat Kota Semarang selalu diberkahi oleh Allah SWT, sehingga Semarang memiliki warga yang kondusif dan selalu dekat dengan sang pencipta,” tambahnya. (JB/Arf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *