Solidaritas Nelayan Natuna Jaga Kelestarian Laut

Nelayan NAtuna usai Ditemui Oleh Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT). (doc)

NATUNA, Jagaberita.com – Kekhawatiran sejumlah nelayan di Natuna atas masuknya kapal nelayan asing, salah satunya disebabkan ukuran kapal dan alat tangkap yang tidak sebanding. Para nelayan mengatakan, kapal-kapal asing yang mencari ikan di perairan Natuna menggunakan kapal dengan ukuran yang besar dan alat tangkap pukat.

Zurmanto (45), nelayan Desa Sepempang, Kecamatan Bunguran Timur, Natuna, mengaku pernah bertemu sejumlah nelayan dari Vietnam dan Cina. Kapalnya tidak dapat mendekat karena kapal asing yang ukurannya lebih besar sudah memasang pukat.

“Mereka itu pakai jaring besar. Sekali Tarik semua ikan masuk, mau ikan kecil ukuran segini juga,” katanya.

Padahal, kata Zurmanto, nelayan Natuna berusaha keras menjaga kelestarian laut. Nelayan Natuna kompak tidak menggunakan pukat agar dapat menjaga kehidupan terumbu karang dan hanya mengambil ikan yang berukuran besar.

“Kalau kita pakai jaring, ke depan tidak akan ada ikan lagi. Anak cucu kita mau makan apa? Kalau mau, kami bisa pakai jaring, tapi kami tidak mau,” tambah Zurmanto.

Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) menemui Zurmanto Selasa (14/1), bertepatan dengan pemberian dukungan paket pangan ACT kepada nelayan Natuna di Pelabuhan Teluk Baruk, Desa Sepempang, Kecamatan Bunguran Timur.

Cerita Zurmanto pun berlanjut. Ada sejumlah bantuan jaring yang pernah diberikan untuk nelayan Natuna, namun tidak mereka gunakan. “Ada bantuan jaring, kami enggak pakai jaring tu. Kami simpan di rumah sampai buruk. Kompak nelayan sini,” lanjutnya.

Selain Zurmanto, Hamdani (45), nelayan yang tinggal di Desa Sepempang itu juga mengaku tetap mempertahankan tradisi pancing. Bahkan, ketika ia harus melaut hingga 100 mil pun tetap menggunakan pancing.

Hamdani juga pernah bertemu nelayan asing, salah satunya nelayan Vietnam. Hamdani mengaku, tidak dapat leluasa mencari ikan jika kapal asing masuk ke perairan Natuna.

“Kalau dia (nelayan asing) datang, kita tidak bisa mendekat. Pancing dan jangkar kita bisa tersangkut ke pukat dia. Sebab itu kita mundur, lebih banyak (mendapat ikan) dia (asing) daripada kita,” kata Hamdani. Belum lagi, kapal-kapal asing itu memiliki kapal-kapal kecil yang khusus untuk mengangkut ikan. Saat melaut, kapal asing kerap didampingi penjaga pantai asal negara mereka.

Ketua Rukun Nelayan Desa Sepempang Hendri mengatakan, potensi nelayan Natuna harus dioptimalkan. Ditemui tim ACT, Kamis (16/1), Hendri berharap, pembinaan dan pemberdayaan nelayan Natuna dapat ditingkatkan.

“Berdayakan dulu nelayan-nelayan Natuna dengan kapal yang lebih besar dan alat tangkap modern, sehingga nelayan Natuna mampu bersaing,” tambahnya. (JB/ACT)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *