50 Persen Sampah Bahan Baku Industri Daur Ulang Indonesia Masih Ekspor

Direktur Jenderal Pengelolaan Limbah, Sampah, dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3) Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Rosa Vivien Ratnawati. (Foto : Arif Nugroho)

SEMARANG, Jagaberita.com – Direktur Jenderal Pengelolaan Limbah, Sampah, dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3) Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Rosa Vivien Ratnawati mengatakan, indonesia saat ini masih mengimpor setidaknya 50 persen sampah sebagai bahan baku daur ulang.

“Sampah saja kita masih ekspor, Seperti sampah plastic, kita masih ekspor 30 juta ton/tahun untuk digunakan industry daur ulang plastik. Bayangkan jika kita dapat bahan baku sampahh daur ulang seperti kertas dan plastik yang bersih, kita tidak usah impor, cukup disuplai dari dalam negeri saja,” Katanya, saat acara Sosialisasi dan Peluncuran Gerakan Nasional Pilah Sampah di Balaikota Semarang, Minggu (13/10/2019).

Dalam kesempatan itu, Vivien mengungkapkan, pemilahan sampah harus dikakukan untuk mempermudah pengolahan sampah menjadi hal yang berguna dan bermanfaat secara ekonomi.

“Kota Semarang menjadi kota keempat yang dipilih KLHK untuk menjadi kota yang dapat melakukan pengelolaan sampah lebih baik,” ungkapnya.

Menurutnya, komitmen Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang dalam pengelolaan sampah sudah bagus. Hal ini dibuktikan dengan pengelolaan tempat pembuangan akhir (TPA) yang sudah dilengkapi dengan tenaga pengelolaan sampah menjadi listrik.

Selain mengajak masyarakat untuk memilah sampah dari rumah, Vivien juga meminta masyarakat Kota Semarang melakukan gerakan pengurangan sampah, terutama sampah yang sulit terurai, seperti plastik, kaleng, dan sterofoam.

“Kalau beli minuman tidak usah minta sedotan plastik. Bawa botol minum. Kalau beli makanan tidak usah pakai sterofoam. Ayo kita kurangi sampah, kita pilah sampah yang ada,” ajaknya.

Vivien juga mengajak Pemkot Semarang untuk mengaktifkan bank sampah. Ada 127 bank sampah di Kota Semarang, namun hanya 86 bank sampah yang aktif. Pihaknya meminta Pemkot untuk dapat mengaktifkan kembali bank sampah tersebut.

“Masyarakat bisa membawa sampah organik dan anorganik ke bank sampah. Mereka bisa mendapatkan keuntungan secara ekonomi dan industri recycle juga bisa bahan baku yang bersih,” tuturnya.

Dia menambahkan, KLHK saat ini tengah menyiapkan surat edaran kepada gubernur, wali kota, maupun bupati untuk melakukan pemilahan sampah. Pihaknya juga akn membuat regulasi terkait hal itu.

“Kami akan meminta Pemerintah Daerah untuk melakukan pemilahan. Selama ini ada beberapa jenis pemilahan tempat sampah namun belum seragam. Itu mau kami seragamkan se-Indonesia,” tegasnya.

Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita G Rahayu menghimbau masyarakat khususnya di Kota Semarang untuk menerapkan gerakan pilah sampah dari rumah. Sehinga sampah yang akan didaur ulang maupun yang langsung dibuang ke tempat pembuangan sampah akhir.

Dia menerangkan, saat ini Kota Semarang memiliki 86 bank sampah. Namun menurutnya jumlah tersebut masih kurang ideal.

“Minimal satu kelurahan ada satu bank sampah, jadi kita harus kerja keras. Karena kelurhan di Kota Semarang ada 177, jadi kurang separuhnya. Kita targetkan tahun depan semua kelurahan memiliki bank sampah, jadi masyarakat juga mudah mengaksesnya,” katanya.

Disisi lain, Public Relation Marimas, Bobi Adi Putra mengatakan Marimas memiliki program Marimas Ecobrics. Program ini mendorong anak sekolah untuk melakukan pemilahan sampah sejak dini.

“Tinggal menyiapkan botol kosong, plastik sisa, kemudian digunting dan dipotong kecil-kecil untuk dimasukan botol. Ini bisa dijadikan sebagai rangkaian meja atau kursi,” jelasnya.

Menurut Bobi, program ini sebagai bentuk pertanggungjawaban marimas terhadap plastik marimas sebagai perusahaan penghasil limbah platik.

“Kami ajak seluruh elemen masyarakat, khususnya di dunia pendidikan untuk ikut serta mengikuti program ecobrick dari marimas,” imbuhnya. (JB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *