Pemkot Semarang Luncurkan Perwal Nomor 24/2019 Tentang Green Building

oleh -
Wakil Walikota Semarang Hevearita G Rahayu usai peluncuran Perwal Nomor 24/2019 di Balaikota, Selasa (24/9/2019). Foto : Arif Nugroho

SEMARANG, Jagaberita.com – Pemerintah Kota Semarang mengeluarkan Peraturan Wali Kota (Perwal) nomor 24/2019 tentang Green Building atau Bangunan Ramah Lingkungan, Selasa (24/9/2019).

Green building atau bangunan ramah lingkungan sendiri merupakan tahapan perencanaan, pembangunan dalam operasi pemeliharaan untuk melindungi, menghemat, dan mengurangi penggunaan sumber daya alam.

Terkait hal itu, Wakil Walikota Semarang, Hevearita G Rahayu mengatakan, dengan dikeluarkannya Perwal tersebut diharapkan masyarakat dan stakeholder dapat mengimplementasikan green building atau bangunan ramah lingkungan.

“Biaya untuk pembangunan gedung hijau memang sedikit lebih tinggi dibanding bangunan biasa. Namun demikian, bangunan green building dapat memberikan keuntungan penghematan energi dan air,” Katanya, Selasa (24/9/2019).

Lebih lanjut, Mbak Ita sapaan akrab Hevearita G Rahayu mengatakan, untuk mengawali penerapan green building, Pemkot Semarang akan mulai menerapkan konsep tersebut di beberapa kantor pemerintahan sebagai percontohan bangunan ramah lingkungan.

“Bisa dilakukan percontohan, gedung-gedung yang lama juga bisa diubah penerangannya, penyediaan water recycle. Mari bersama mewujudkan green building agar Kota Semarang bisa menghemat energi untuk generasi mendatang,” tambahnya.

Sementara itu, International Finance Corporation (IFC) mendukung kota Semarang meningkatkan efisiensi energi kota melalui Program IFC untuk transformasi pasar bangunan ramah lingkungan. Program tersebut bertujuan untuk mendorong dan mendukung kota-kota besar seperti Kota Semarang mengembangkan dan menerapkan kebijakan pengurangan penggunaan listrik, emisi CO2, dan konsumsi air.

Country Manager IFC untuk Indonesia, Malaysia, dan Timor Leste Azam Khan mengatakan, pengimplementasian peraturan bangunan gedung ramah lingkungan di Kota Semarang akan semakin memperkokoh komitmen Indonesia untuk mengurangi emisi gas rumah kaca melalui bangunan ramah lingkungan.

Dia berharap, Kota Semarang menjadi menjadi perintis penerapan peraturan bangunan gedung ramah lingkungan di Indonesia.

“Indonesia adalah salah satu dari lima negara penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia dan sektor bangunan adalah salah satu dari sektor yang mengkonsumsi energi final terbesar. Perkotaan di Indonesia tumbuh 4.1 persen per tahun, paling cepat di Asia. Tujuh puluh persen orang Indonesia akan hidup di perkotaan pada tahun 2025. Hal ini berpotensi untuk melipat-gandakan konsumsi listrik oleh bangunan gedung,” katanya.

Menurutnya, peraturan green building ini dapat menjadi solusi untuk mengimbangi peningkatan kebutuhan infrastruktur di Indonesia.

“Peraturan green building ini akan membantu memastikan terwujudnya pembangunan yang berkelanjutan. Harapannya penerapan Perwal ini dapat memicu kota-kota lain untuk mengikuti penerapan pembangunan bangunan ramah lingkungan ini,” imbuhnya. (JB)