14 PSK dan 6 Waria Terjaring Razia Satpol PP Kota Semarang

Satu per satu PSK yang tertangkap dalam Razia Satpol PP Kota Semarang diangkut menggunakan truk untuk dilakukan pendataan, Jumat (6/9/2019).

SEMARANG, Jagaberita.com – Sebanyak 20 Pekerjaan Seks Komersial (PSK) terjaring razia oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Semarang, Jumat (6/9/2019) malam.

Operasi pekat tersebut digelar mulai pukul 20:00 wib, dengan sasaran beberapa lokasi yang biasa dijadikan para PSK tersebut menjajakan diri, yakni Jalan Imam Bonjol, Jalan Tanjung, Polder Tawang, Perempatan Jalan Hanoman, dan Karaoke Liar di bawah Jematan Taman Indah (TI).

Terkait hal itu, Kepala Satpol PP Kota Semarang Fajar Purwoto mengatakan, razia kali ini melibatkan tim macan Satpol PP. Dimana dalam razia tersebut pihaknya berhasil mengamankan 20 PSK yang terdiri dari 14 PSK perempuan dan 6 orang waria.

BACA JUGA : Karaoke MAJT, Satpol PP Kota Semarang : Oktober Kami Tertibkan

“Kita bagi tim, ada yang menggunakan sepeda motor beberapa personil sehingga para PSK yang tengah menjajakan diri tidak sempat kabur. Langsung kita amankan dengan menggunakan truk untuk di data di kantor,” katanya.

Sementara itu, saat dilakukan penertiban di karaoke liar jembatan TI, sempat terjadi adu mulut antara target operasi dengan anggota.

“Iya sempat ada sedikit adu mulut karena yang bersangkutan tidak mau didata. Sehingga kami lakukan tindakan tegas,” terang Fajar.

Lebih lanjut Fajar mengungkapkan, razia kali bertujuan untuk menjaga kondusifitas Kota Semarang dari para pekerja seks yang sering menjajakan diri di pinggir jalan.

“Untuk razia malam ini merupakan peringatan terakhir dari Satpol bagi mereka. Kedepan saat kami melakukan razia kembali mereka yang diamankan akan langsung kami bawa ke Resos di Solo,” tegasnya.

Razia pekat tersebut lanjut Fajar, juga sebagai bahan antisipasi adanya PSK baru. Apalagi saat ini Resos Argorejo (Sunan Kuning) akan dilakukan penutupan.

BACA JUGA : November Dilewati BRT Trans Semarang, Pengunjung Goa Kreo Diprediksi Meningkat

“Untuk mengantisipasi adanya PSK Sunan Kuning yang menjajakan diri di pinggir jalan menyusul dengan rencana penutupan SK. Akan tetapi setelah kami data, kami tidak menemukan adanya wanita penghibur yang berasal dari Resos Argorejo,” ungkapnya.

Sementara dari pendataan yang dilakukan kata Fajar, sebagian besar dari mereka merupakan pendatang dan sedikit yang berasal dari Kota Semarang.

“Sebagian besar dari mereka berasal dari daerah tetangga, bukan dari Kota Semarang. Jika dilihat dari pendataan tadi sepintas yang berasal dari Kota Semarang hanya beberapa saja,” imbuhnya. (JB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *